Adu Spelling Bee hingga Pementasan Cerita Rakyat

 

Dua Tahun Komunitas Muda Mengajar di Balikpapan

Dalam sekejab, Aula Rumah Jabatan Wali Kota Balikpapan di Jalan Syarifuddin Yoes serasa kampung Inggris. Hampir 100 anak unjuk kebolehan. Bernyanyi, bercerita, bahkan mementaskan drama menggunakan bahasa Inggris.

DIHILANGKANNYA muatan lokal bahasa Inggris dalam pendidikan tingkat dasar sejak kurikulum 2013, tak menjadi halangan bagi anak untuk untuk terus belajar. Apalagi, saat ini sudah ada Komunitas Muda Mengajar Balikpapan. Komunitas berisi anak muda ini merangkul anak-anak yang kurang mampu. Kemudian mengajarkan bahasa Inggris yang tak lagi mereka dapatkan di sekolah.

Saat ini, murid dari Komunitas Muda Mengajar sudah lebih dari 200 anak di Balikpapan. Sementara volunteer (relawan) Muda Mengajar sudah lebih dari 50 orang. Pementasan di Aula Rumjab kemarin (9/7), selain peringatan dua tahun terbentuknya Muda Mengajar, juga ajang menampilkan kebolehan anak-anak setelah dua tahun belajar.

Satu per satu bakat-bakat ditampilkan. Mulai dari menyanyi dan menari.  Ada juga pementasan cerita rakyat Malin Kundang yang ditampilkan siluet dengan bahasa Inggris. Ada juga kompetisi spelling bee dan story telling. Murid Muda Mengajar adalah anak-anak yang usianya 4-12 tahun.

“Yang tampil murid yang terpilih dan terseleksi sebelumnya. Seperti di Balikpapan diambil dari Kampung Buton, Sahabat Yatim Sepinggan dan Yayasan Al Kahfi,” ucap Community Leader Muda Mengajar, Ikhsan Wahyu Nugraha.

Dia menjelaskan, kegiatan kemarin merupakan pemersatu semua murid dan 50 volunteer pengajar. Murid yang tampil lebih dari 90 anak. Sehingga selain menjalin silaturahmi juga memacu siswa lain supaya makin termotivasi belajar bahasa Inggris dan percaya diri. “Selain pendidikan juga diajarkan pendidikan karakter. Sehingga setelah mampu juga percaya diri mempraktikannya,” tambahnya.

Dia melanjutkan, kegiatan belajar-mengajar dilakukan setiap Minggu pukul 09.00 – 11.00 Wita.  Dia berharap bisa terasa manfaatnya. Serta bisa memahami sesuatu dan bisa mengikuti perkembangan zaman di era modern ini. “Kami terapkan metode fun learningsupaya murid paham belajar di luar sekolah. Pelajarannya pun kami sesuaikan. Ada tingkatan introductionbasic, intermediate, advance,” paparnya.

Pembelajaran dilakukan secara bertingkat. Seperti introduction untuk mengenal huruf dan warna. Basic untuk pengenalan diri. Intermediate untuk mulai bercakap-cakap. Dan advance belajar tentang tata bahasa dan komunikasi lebih intens.

“Belajarnya bertahap. Banyak introduction dan basic yang kami ajarkan. Jadi kendalanya bagaimana mengatur dan menenangkan mereka supaya belajar dengan cara yang asyik,” ungkapnya.

Dia berharap dengan adanya kegiatan ini bisa terus membantu masyarakat yang kurang mampu supaya bisa mendapat pendidikan bahasa Inggris yang layak. Dan siap bersaing dengan siswa lain. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *