Muda Mengajar Speaking Club: Berbahasa Inggris sehari dalam Sepekan.

Muda Mengajar Speaking Club adalah nama program diskusi Bahasa Inggris yang bertujuan meningkatkan kemampuan berbahasa asing internasional tersebut. Program ini mulai digagas sekitar bulan November 2016. Pertemuan inisiasi ketika itu dilakukan di sebuah angkringan di depan salah satu supermarket di Balikpapan di bilangan Jl. M.T. Haryono.

Rencana awalnya, setiap seminggu sekali anggota Muda Mengajar yang tertarik untuk belajar percakapan Bahasa Inggris berkumpul di satu tempat, bisa café, taman atau rumah. Di sana mereka akan melakukan percakapan dalam Bahasa Inggris secara penuh. Peraturannya sederhana, anggota hanya diperbolehkan berbicara dalam Bahasa Inggrin, jika ketahuan berbicara bahasa lainnya (Bahasa Indonesia, Bahasa Banjar, Bahasa Bugis atau Bahasa lainnya) berakibat pada pemberian hukuman. Bentuk dari hukumannya beragam, yang penting bisa menambah kemampuan berbahasa Inggris. Setiap minggu PIC (Person In Charge) untuk kegiatan ini di rolling.

Pertemuan Pertama Penuh Canda, Banyak yang “Deg-degan”, padahal bukan malam pertama

Pertemuan pertama yang dihadiri sebanyak 7 orang, bertempat di salah satu tempat makan di salah satu supermaket di bilangan Jl M.T. Haryono. Ketika itu topik yang hangat diperbincangkan adalah mengenai kandidat presiden Amerika Serikat. Mas Ade yang  ketika itu menjadi PJ membagi peserta menjadi 2 tim: tim pertama yang PRO jika Trump menjadi presiden dan tim kedua yang CON jika Pak Donald menjadi pemimpin Negara adidaya tersebut. Sejujurnya ketika itu kami agak kurang siap ketika mendadak diminta untuk mengeluarkan argument dan mempertahankannya. Hukuman bagi anggota yang kedapatan berbicara Bahasa selain Inggris adalah dengan memberitahukan 3 verbs yang jarang didengar. Secara tidak langsung hukuman ini memperkaya pembendaharaan kata (vocabulary) klub diskusi.

Ada juga sesi game ketika masing-masing dari kami diberikan kertas yang bertuliskan sebuah benda. Benda itu yang akan dipakai untuk bertahan hidup di hutan. Benda yang Penulis dapat adalah kompas. Hmm, cukup berguna untuk survival. Kawan-kawan lain ada yang dapat pulpen, payung, jaket, dan smartphone tanpa sinyal. Kita dapat memberi tanggapan dan masukan juga terhadap argument orang lain. Debat seru sempat terjadi antara pengguna handphone dan korek api.

Taufiq sang PJ menyiapkan bahan perbincangan 

Setiap pertemuan selalui diisi dengan topik yang segar dan menarik. Mungkin karena setiap pekan penanggung jawabnya (PJ) bergantian, jadi tidak itu-itu saja. Ketika Penulis jadi PJ, bertempat di salah satu café di pinggir Pantai Benua Patra, kami bermain mendeskripsikan ilustrasi sarkastik dari John Holcroff sesuai interpretasi masing-masing. Ketika Bio memimpin forum, kami menikmati permainan detektif untuk memecahkan kasus pembunuhan di hotel. Ketika Taufiq membawa sesi speaking, kami asyik berdiskusi mengenai komunitas lain yang diikuti masing-masing anggota.

Awalnya Penulis merasa agak kaku bicara Bahasa Inggris. Wong biasanya makan nasi disuruh bicara kayak bule. Sempat juga ada rasa malu untuk berbicara karena sejujurnya kemampuan speaking Penulis kurang begitu baik. Penulis belum dapat berbicara cas cis cus seperti native. Tapi kemudian Penulis memberanikan diri. Jika tidak dipaksakan, bagaimana dapat berkembang? Klub speaking ini merupakan kesempatan emas untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan orang lain.

Kemampuan Bahasa dari setiap anggota beragam, ada yang sudah fasih hingga Penulis yakin ketika tes IELTS akan dengan mudah memperoleh band 8 sampai ada yang jika dapat menanyakan arah toilet ketika kebelet saja sudah syukur.

Sorry, I didn’t mean to be sharp-mouthed. But we share something in common: the determination in learning English and enhancing our conversation skills.

 Dari mulai jumlah pesertanya bisa dihitung pakai jari tangan, sampe gak cukup walau udah pake jari kaki. 

Sekarang MM Speaking Club terbuka untuk semua orang yang ingin mempertajam kemampuan Bahasa Inggrisnya, tidak terbatas kepada anggota Muda Mengajar saja. Pada awalnya pilihan tempat berkumpul terbatas dan itu-itu melulu. Sekarang momen berkumpul speaking club juga dimanfaatkan sebagai sarana mencoba café dan tempat makan baru. Selain lidah terbiasa melafalkan vocabulary Inggris, lidah juga  dimanjakan oleh cita rasa makanan dan minuman yang lezat; yang teriak paling dompet. Hahaha. Pemilihan tempat publik juga bertujuan untuk mengenalkan komunitas Muda Mengajar dan program Speaking Club. 

So, if you are in Balikpapan, eager in learning foreign language and exited to polish your English conversation skills, why don’t you join us?! Info for participation are available in Instagram @mudamengajar.

 

Thx to kak Parama yang udah mau ngisi kolom artikel kami

Sumber : disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *